Integrasi ilmu, iman, dan amal, dalam pembentukan kader progresif melalui Darul Arqom dasar (DAD) PK IMM Allende 2025
(Sidoarjo, 21 – 23
November 2025) Dalam proses pengkaderan Darul Arqam Dasar (DAD) PK IMM
Allende, seluruh materi disusun sebagai rangkaian pengetahuan yang saling
berkaitan. Struktur pembelajarannya tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu
dalam satu bangunan pemahaman yang bertujuan membentuk kader yang beriman,
berilmu, dan berkemampuan sosial. Penguatan karakter kader dimulai dari fondasi
paling mendasar, yaitu kesadaran mengenai keberadaan Tuhan. Dalam Islam, iman
tidak sekadar diwariskan, tetapi perlu menemukan pijakan rasional dan
spiritual. Dalil naqli dalam Al-Qur’an menegaskan keesaan Allah sebagai
Pencipta langit dan bumi, pemilik kekuasaan yang tidak menyamai apa pun.
Kesadaran iman membentuk tiga lapisan keberagamaan: kesadaran keberadaan, kesadaran
psikologis, dan kesaksian spiritual. Ketiganya menjadi pijakan seorang kader
untuk menapaki proses intelektual dan sosial dalam IMM.
Setelah pondasi iman
ditegakkan, peserta diperkenalkan pada ideologi gerakan Muhammadiyah rumah besar kelahiran IMM.
Sejarah berdirinya Muhammadiyah menunjukkan semangat pembaruan yang digagas KH.
Ahmad Dahlan dalam menghadapi realitas umat pada masa kolonialisme. Pemikiran
islam berkemajuan mengarahkan umat untuk berpikir rasional, modern, namun tetap
berlandaskan nilai wahyu. Di titik ini, kader IMM memahami bahwa dakwah bukan
hanya aktivitas spiritual, melainkan agenda peradaban.
Pemahaman ideologis
tersebut diperdalam melalui materi Ideologi Ke-IMM-an yang secara khusus
menguraikan tujuan, enam penegasan, serta trilogi-trikom IMM sebagai identitas
gerakan mahasiswa. Tujuan IMM adalah mengusahakan terbentuknya akademisi Islam
yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Rumusan ini
tidak hanya menekankan aspek intelektual, tetapi juga akhlak, religiusitas, dan
orientasi kemasyarakatan. Dan meneguhkan
bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam yang berlandaskan Kepribadian
Muhammadiyah, tunduk pada hukum negara, dan menempatkan ilmu serta amal sebagai
satu kesatuan. Penegasan terakhir, bahwa seluruh amal IMM adalah lillahi ta’ala
dan diabdikan untuk kepentingan rakyat, memperlihatkan bahwa orientasi
keberpihakan sosial adalah karakter inti IMM. Identitas ini kemudian diperjelas
melalui trilogi-trikom: keagamaan, kemahasiswaan, kemasyarakatan, serta
religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Trilogi-trikom menjadi pola pikir
dan pola tindak kader, sehingga setiap aktivitas IMM selalu berdiri di tiga
dimensi nilai tersebut.
Di atas dasar ideologis
dan keagamaan itu, peserta kemudian mempelajari Psikologi Gerakan dan Empati
Sosial sebagai jembatan yang menjelaskan bagaimana nilai berubah menjadi
tindakan kolektif. Psikologi gerakan memperlihatkan bahwa partisipasi dalam
aksi sosial tidak muncul tiba-tiba, tetapi dipengaruhi oleh motivasi ideologis,
identitas kelompok, serta emosi moral. Nilai profetik
humanisasi, liberasi, dan transendensi menjadi alasan mengapa kader merasa wajib bergerak.
Identitas sebagai “kader IMM” memberi rasa memiliki yang melahirkan
solidaritas. Sementara itu, emosi seperti kemarahan terhadap ketidakadilan,
keprihatinan terhadap penderitaan rakyat, dan kebahagiaan melihat orang
terbantu menjadi bahan bakar bagi aksi sosial. Dalam proses ini, empati baik afektif maupun kognitif menjadi unsur penting. Empati menghubungkan pengetahuan dengan
kepedulian, sehingga kader tidak hanya memahami masalah, tetapi juga terdorong
memberikan solusi.
Agar penggerakan sosial
dapat dilakukan secara tepat, materi Analisis Sosial hadir memberikan kemampuan
membaca struktur dan dinamika masyarakat. Analisis sosial mengajarkan kader
untuk melihat fenomena secara objektif melalui studi historis, struktural,
hingga konsekuensi sosialnya. Dengan pendekatan ini, peserta belajar mengenali
pola kekuasaan, relasi masyarakat, potensi konflik, hingga modal sosial yang
terdapat dalam suatu komunitas. Teori sosial digunakan sebagai alat berpikir
logis dan kritis, sehingga kader mampu menyusun strategi intervensi yang
relevan dan tidak sekadar reaktif. Metode seperti pemetaan sosial, analisis
aktor, SWOT, hingga pemanfaatan teknologi termasuk kecerdasan buatan memperkaya
proses analitis dan meningkatkan kapasitas intelektual kader dalam merespons
persoalan publik.
Kemudian teori tersebut
diuji dalam praktik melalui Simulasi Gerakan Mahasiswa, sebuah latihan untuk
memahami dinamika aksi secara langsung. Dalam simulasi ini, isu publik diangkat
untuk dianalisis dan direspons, seperti masalah implementasi Program Makan
Bergizi Gratis yang menghadapi berbagai kendala. Peserta diberikan berbagai
peran mulai dari orator, negosiator, koordinator lapangan, marshall, hingga
massa tandingan dan provokator. Simulasi ini mengajarkan kemampuan teknis,
pengendalian situasi, penyusunan tuntutan, serta etika aksi. Melalui pengalaman
tersebut, peserta tidak hanya memahami teori tentang gerakan, tetapi juga
mengenali tantangan nyata yang mungkin muncul di lapangan. Kegiatan ini melatih
ketegasan, keberanian, kedisiplinan, serta keterampilan komunikasi yang
diperlukan seorang kader dalam menjalankan fungsi kemahasiswaannya.
Dengan demikian, seluruh
materi dalam DAD tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi tersusun dalam alur
pembentukan karakter kader yang ideal. Dimulai dari kesadaran teologis,
dilanjutkan dengan pemahaman ideologi Muhammadiyah dan identitas IMM, diperkaya
oleh wawasan psikologis dan kemampuan analisis sosial, lalu dipraktikkan
melalui simulasi gerakan. Proses ini membentuk kader yang seimbang antara iman,
ilmu, dan aksi. Inilah tujuan utama pengkaderan: melahirkan generasi
intelektual muda yang berakhlak mulia, berpikir kritis, berorientasi pada
kemajuan, serta senantiasa mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan.
Author : Shalwa Hauzy Azzara
Editor : Rahma Nur Hamidah
Komentar
Posting Komentar