Langsung ke konten utama

Refleksi Filsafat Ilmu: Menyelami Hakikat Pengetahuan dan Dasar Kemajuan Golongan

 


    7 November 2025- Masjid Al-Qory Universitas Muhammadiyah Surabaya menjadi ajang dialog mendalam antara pemantik dan peserta. Acara ini tidak hanya menghadirkan penyampaian materi, tetapi berlangsung sebagai satu sesi diskusi dua arah yang hidup, kritis, dan sarat pertanyaan fundamental mengenai hakikat ilmu dan peranannya dalam membentuk peradaban.

    Suasana Masjid Al-Qory dipenuhi antusiasme dari para peserta. Pemantik membuka diskusi dengan menekankan bahwa keinginan memahami ilmu secara menyeluruh adalah ciri utama seorang yang berpikir filsafati. Di tengah keterbatasan sudut pandang, manusia sering kali hanya terpaku pada satu disiplin; namun pemikiran filsafat justru menuntut seseorang menghubungkan ilmu dengan nilai moral, agama, dan realitas sosial. Dari titik inilah peserta didorong untuk memeriksa ulang pemahaman mereka mengenai struktur ilmu.

    Pemantik kemudian membawa peserta pada refleksi mendasar: bahwa seorang pencari ilmu sejati harus berani “membongkar tempat berpijak”-nya sendiri. Kebenaran tidak diterima begitu saja; ia diperiksa melalui pertanyaan-pertanyaan filosofis: apa dasar sebuah ilmu dianggap benar? proses apa yang menentukan penilaiannya? bagaimana validitas kriterianya? bahkan sampai kepada pertanyaan paling mendalam: apa itu kebenaran? Sikap ini selaras dengan pandangan klasik filsafat bahwa ilmu berakar pada sikap heran, rasa ingin tahu, dan kebutuhan untuk memahami realitas secara bijak, bukan sekadar menerima informasi secara pasif.

    Diskusi berlanjut pada pembahasan sifat spekulatif yang menyertai cara kerja filsafat. Peserta menyadari bahwa sifat spekulatif bukan berarti menebak-nebak tanpa landasan, tetapi berpikir rasional dan mendalam mengenai hal-hal yang tidak dapat diverifikasi secara langsung melalui indera. Hakikat Tuhan, makna jiwa, dan struktur realitas berada di wilayah pemikiran yang tidak dapat disentuh oleh observasi empiris, namun tetap dapat dipahami melalui penalaran logis. Pemantik menekankan bahwa pemikiran semacam ini justru memampukan manusia menjelajahi wilayah yang melampaui batas pengalaman indrawi.

    Dalam alur diskusi, pemantik juga menambahkan penguatan konsep dari pemikiran filsafat ilmu yang umum dikaji dalam sastra akademik. Ia menegaskan bahwa ilmu memiliki karakteristik yang membedakannya dari sekadar opini. Ilmu bersifat logis, sistematis, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ilmu lahir dari upaya manusia menata pengetahuan secara terarah dan konsisten, sehingga menghasilkan pemahaman yang kokoh tentang dunia. Pengetahuan ilmiah berbeda dari ilmu biasa karena ia mengikuti metode, prosedur, dan mekanisme kesehatan berpikir yang jelas. Dalam pandangan Suriasumantri, ilmu tidak hanya menjelaskan “apa yang terjadi,” tetapi juga membantu manusia memahami “mengapa itu terjadi,” dan “bagaimana proses itu berlangsung.” Dengan kata lain, ilmu bukan kumpulan informasi, tetapi sistem pemaknaan yang terstruktur.

    Pemantik juga menyoroti posisi ilmu dalam kehidupan manusia sebagaimana ditekankan Jujun: bahwa ilmu bukan hanya alat untuk memuaskan rasa ingin tahu, tetapi memiliki fungsi sosial. Ilmu membentuk cara kita mengambil keputusan, mempengaruhi kebudayaan, dan menentukan arah perkembangan suatu masyarakat. Maka, ketika ilmu berkembang, masyarakat ikut maju; sementara ketika ilmu stagnan, kemajuan pun terhambat.

    Dari titik ini, diskusi mengalir pada kesadaran kolektif bahwa kemajuan sebuah golongan sangat bergantung pada cara mereka berinteraksi dengan ilmu. Pernyataan “syarat majunya sebuah golongan dilandaskan dari ilmu tergantung dari interaksinya kepada ilmu” menjadi refleksi utama peserta. Apabila sebuah kelompok aktif berinteraksi dengan ilmu, mengolahnya, mengkritisinya, dan memanfaatkannya, maka ilmu tersebut tumbuh, berkembang, dan membawa dampak nyata. Sebaliknya, jika hubungan manusia dengan ilmu dangkal, maka stagnasi intelektual menghantui kehidupan mereka.

    Sesi dialog ditutup dengan kesimpulan bahwa ilmu tidak hanya milik ruang kelas atau laboratorium; ia adalah bagian dari hidup. Menjadi manusia berilmu berarti membangun kedalaman berpikir, menggabungkan nalar dengan nilai moral, serta menjadikan pengetahuan sebagai landasan tindakan. Meskipun acara ini berlangsung sederhana dalam format, kedalaman dialog yang lahir dari interaksi dua arah antara pemantik dan peserta menjadikan kegiatan ini sebagai pengalaman intelektual yang berkesan dan menumbuhkan kesadaran baru mengenai hakikat ilmu.

Author     : Achmad Affan Firdaus

Editor      :  Rahma Nur Hamidah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ta’dib dan Konsepsi Manusia dalam Islam

  Surabaya – Bidang Tabligh PK IMM Allende kembali menggelar Kajian Islam KALAM #5 pada hari Kamis, (12/6), bertempat di Lantai 9, Ruang 903 Gedung At Tauhid Tower. Kajian ini mengangkat tema “Ta’dib dan Konsepsi Manusia dalam Islam”, dengan menghadirkan Rafif Burhanuddin Muhammad sebagai pemateri. Kajian ini membahas secara mendalam tentang konsep ta’dib , yaitu proses pendidikan dalam Islam yang menekankan pembentukan adab dalam diri individu, agar mampu mengenal dan menempatkan segala sesuatu secara adil dan proporsional. Pemateri menekankan bahwa ta’dib bukan sekadar pengajaran pengetahuan, namun lebih pada proses internalisasi nilai-nilai spiritual dan moral dalam diri manusia. Selain itu, pembahasan juga menyinggung hakikat manusia menurut Islam yang terdiri dari empat unsur utama, yaitu ruh, akal, qalbu, dan jism. Rafif menjelaskan bahwa tanpa salah satu dari unsur tersebut, maka manusia tidak bisa disebut sebagai manusia. Tanpa salah satu dari keempat unsur ini, mak...

Hadirkan Kajian yang Menghangatkan Hati

  Suarabaya - Rabu, 2 Juli 2025 lalu, Pimpinan Komisariat IMM Allende melalui bidang Immawati menggelar sebuah kegiatan inspiratif bertajuk SPM X Immawati dengan tema “Dekat Di Hati, Erat Dalam Kasih” . Bertempat di Basecamp Komunitas Cahaya Bunda, Jl. Belakang Panggung No. 35, kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang berbagi yang hangat bagi para ibu dalam memahami peran psikologis mereka dalam keluarga. Acara ini menghadirkan pemateri Ummi Masrufah Maulidiyah, S.Psi., M.Psi., Psikolog., yang secara lugas dan hangat menyampaikan materi mengenai pentingnya menjaga kedekatan emosional antara ibu dan anak. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa kebersamaan tidak hanya hadir dalam bentuk materi, tetapi juga dalam tindakan kecil yang konsisten, seperti menyapa anak ketika pulang sekolah, memeluknya secara rutin, dan menunjukkan kasih sayang secara verbal dan nonverbal. Salah satu momen yang mengaduk emosi peserta adalah ketika ditayangkan sebuah klip video tentang p...