Surabaya, 20 April 2026 - Pimpinan
Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Allende kembali menunjukkan
komitmennya dalam membangun kualitas intelektual kader melalui kegiatan Follow
Up DAD 2 & Haflah Tasyakur yang diselenggarakan pada Senin, 20 April
2026, bertempat di Kediaman Kanda Iqbal, mulai pukul 15.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan pasca Darul Arqam Dasar
(DAD) 2, dengan mengusung tema “Paradigma Berpikir Politik: Pola Pikir
Politik di Kalangan Gen Z.”
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang
silaturahmi dan rasa syukur, tetapi juga sebagai forum intelektual yang
membahas isu strategis terkait perkembangan pola pikir politik generasi muda di
era digital. Dalam konteks kekinian, politik tidak lagi dapat dimaknai secara
sempit sebagai perebutan kekuasaan semata. Ia telah berkembang menjadi ruang
dialektika gagasan, pertarungan nilai, serta arena perjuangan dalam menentukan
arah masa depan masyarakat.
Seiring dengan perkembangan teknologi,
politik kini hadir dalam berbagai lini kehidupan, termasuk dalam dunia digital.
Media sosial, platform diskusi daring, hingga ruang-ruang percakapan informal
telah menjadi bagian dari praktik politik modern. Dalam situasi ini, Generasi Z
tampil sebagai aktor penting yang tidak bisa diabaikan. Mereka tumbuh dalam
lingkungan yang serba cepat, terbuka, dan penuh akses terhadap informasi,
sehingga membentuk karakter yang kritis, ekspresif, serta berani menyuarakan
pendapat.
Acara ini dipantik oleh Bidang HPKP dan
dipandu oleh moderator Mutiara Indah M. Wairoy, yang berhasil mengarahkan
jalannya diskusi menjadi lebih hidup dan terarah. Sejak awal kegiatan, suasana
forum sudah terasa hangat dan interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme
yang tinggi, tidak hanya dengan menyimak materi, tetapi juga aktif dalam
memberikan tanggapan, pertanyaan, serta pandangan kritis terhadap isu yang
dibahas.
Pembahasan dalam forum ini menekankan
bahwa paradigma berpikir merupakan fondasi utama dalam memahami realitas.
Paradigma bukan sekadar opini, melainkan kerangka berpikir yang membentuk cara
seseorang melihat, menilai, dan merespons suatu fenomena. Dalam konteks
politik, paradigma berpikir akan sangat menentukan sikap individu dalam
menghadapi isu-isu publik, mulai dari cara menyikapi perbedaan hingga dalam
mengambil keputusan.
Salah satu isu yang menjadi sorotan dalam
diskusi adalah fenomena echo chamber di media sosial. Peserta diajak
untuk memahami bagaimana algoritma digital secara tidak langsung membentuk
ruang gema, di mana seseorang cenderung hanya terpapar pada informasi yang
sesuai dengan pandangannya. Kondisi ini menyebabkan ruang dialog menjadi
semakin sempit dan memperbesar potensi polarisasi di masyarakat. Dalam diskusi,
beberapa peserta bahkan membagikan pengalaman pribadi terkait bagaimana
perbedaan pandangan politik di media sosial dapat memicu konflik interpersonal.
Namun demikian, forum ini juga menyoroti
sisi positif dari keberadaan Generasi Z dalam dinamika politik. Gen Z dinilai
memiliki kepedulian sosial yang tinggi, keberanian dalam menyuarakan kebenaran,
serta semangat untuk menghadirkan perubahan. Mereka tidak hanya menjadi
penonton, tetapi juga mulai berperan sebagai partisipan aktif dalam berbagai
isu sosial dan politik.
Selama kegiatan berlangsung, suasana
diskusi berjalan dengan sangat dinamis. Audiens saling bertukar argumen secara
terbuka, menyampaikan perspektif yang beragam, serta berusaha memahami sudut
pandang satu sama lain. Perbedaan pendapat tidak menjadi penghalang, justru
menjadi bahan refleksi yang memperkaya wawasan bersama. Interaksi ini
menunjukkan bahwa kader IMM memiliki potensi besar dalam membangun budaya
diskusi yang sehat dan konstruktif.
Di sisi lain, peserta juga diajak untuk
menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara kecepatan dalam menerima
informasi dan kedalaman dalam memahami makna. Arus informasi yang begitu cepat
sering kali membuat individu tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan tanpa
melakukan analisis yang mendalam. Oleh karena itu, literasi politik menjadi hal
yang sangat penting untuk dikembangkan, tidak hanya dalam memahami isu, tetapi
juga dalam mengkritisi sumber informasi dan memahami konteks yang lebih luas.
Nilai-nilai dasar seperti integritas,
kejujuran, dan tanggung jawab juga ditekankan sebagai landasan utama dalam
berpolitik. Politik yang sehat tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan
intelektual, tetapi juga oleh kualitas moral individu yang terlibat di dalamnya.
Dalam forum ini, peserta didorong untuk tidak hanya aktif berdiskusi, tetapi
juga mampu menerjemahkan pemahaman tersebut ke dalam tindakan nyata di tengah
masyarakat.
Setelah sesi diskusi yang berlangsung
cukup intens, kegiatan dilanjutkan dengan rangkaian Haflah Tasyakur sebagai
bentuk rasa syukur atas terselenggaranya acara dan perjalanan kaderisasi yang
telah dilalui. Momen ini berlangsung dengan penuh kehangatan, mempererat
ukhuwah, serta membangun rasa kebersamaan di antara kader IMM Allende.
Secara keseluruhan, kegiatan Follow Up
DAD 2 & Haflah Tasyakur ini berjalan dengan lancar dan sukses.
Antusiasme peserta, kualitas diskusi yang terbangun, serta suasana kebersamaan
yang tercipta menjadi indikator bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif
bagi penguatan kapasitas kader.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para
kader mampu membangun paradigma berpikir politik yang lebih matang, kritis, dan
terbuka. Sebab pada akhirnya, politik adalah cerminan dari cara berpikir
masyarakatnya. Jika cara berpikir tersebut dangkal, maka arah politik akan
mudah terdistorsi. Namun jika dibangun dengan kesadaran, kedalaman, dan nilai
yang kuat, maka politik dapat menjadi sarana perubahan yang konstruktif.
Generasi Z, dalam hal ini kader IMM,
memiliki posisi strategis dalam menentukan arah tersebut. Mereka bukan hanya
bagian dari masa depan, tetapi juga aktor penting di masa kini. Oleh karena
itu, membangun paradigma berpikir yang kuat bukan lagi sekadar pilihan,
melainkan sebuah kebutuhan.
Author : Aidah Icha Nur Fadhilah & Achmad Affan Firdaus
Editor : Rahma Nur Hamidah

Komentar
Posting Komentar