Langsung ke konten utama

Kajian politik: "Menelisik Ulang Konsep Demokrasi"

 

        Surabaya, Rabu 4 Maret 2026-Demokrasi yang kita kenal hari ini bukanlah sistem yang lahir secara instan, melainkan hasil perjalanan sejarah yang panjang. Gagasan tentang kedaulatan rakyat telah mengalami berbagai perubahan, kritik, dan penyempurnaan sejak pertama kali tumbuh di Yunani Kuno.

Pada abad ke-5 SM, Athena memperkenalkan bentuk demokrasi langsung, di mana warga laki-laki dewasa dapat terlibat dalam pengambilan keputusan melalui majelis rakyat. Meski partisipatif, sistem ini belum inklusif karena perempuan, budak, dan pendatang tidak memiliki hak politik. Di tengah praktik demokrasi tersebut, Socrates melontarkan kritik tajam, terutama terhadap bahaya keputusan mayoritas yang tidak didasarkan pada kebijaksanaan dan rasionalitas. Ia juga memperingatkan ancaman demagogi manipulasi emosi rakyat demi kekuasaan.

Gagasan pemerintahan rakyat kemudian berkembang di Republik Romawi dengan sistem campuran antara aristokrasi dan demokrasi. Konsep perwakilan serta pembatasan kekuasaan mulai dikenal, meskipun dominasi elite masih kuat. Warisan penting Romawi adalah prinsip hukum dan sistem perwakilan yang kelak memengaruhi demokrasi modern.

Memasuki Abad Pertengahan, kekuasaan monarki dan legitimasi agama mendominasi, sehingga praktik demokrasi meredup. Perubahan signifikan muncul di Inggris pada abad ke-17 ketika kekuasaan raja mulai dibatasi oleh parlemen. Dari sinilah prinsip pembatasan kekuasaan semakin menguat.

Era Pencerahan membawa fondasi baru bagi demokrasi modern. John Locke menekankan hak-hak alamiah manusia hidup, kebebasan, dan kepemilikan serta gagasan bahwa negara dibentuk untuk melindungi hak tersebut. Montesquieu memperkenalkan pemisahan kekuasaan menjadi legislatif, eksekutif, dan yudikatif guna mencegah penyalahgunaan wewenang.

Seiring waktu, demokrasi semakin inklusif. Hak pilih yang semula terbatas pada kelompok tertentu diperluas melalui perjuangan panjang berbagai kalangan. Demokrasi pun berkembang menjadi sistem yang menekankan kedaulatan rakyat, kebebasan, kesetaraan, partisipasi politik, dan supremasi hukum.

Perjalanan panjang ini menunjukkan bahwa demokrasi bukan sistem yang sempurna, tetapi ia terus bergerak dan diperbaiki melalui kritik serta pengalaman sejarah. Dari Athena hingga era modern, demokrasi menjadi cerminan upaya manusia dalam mencari keseimbangan antara kekuasaan dan kebebasan.

Author   : Aidah Icha Nur Fadhilah

Editor    : Rahma Nur Hamidah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadirkan Kajian yang Menghangatkan Hati

  Suarabaya - Rabu, 2 Juli 2025 lalu, Pimpinan Komisariat IMM Allende melalui bidang Immawati menggelar sebuah kegiatan inspiratif bertajuk SPM X Immawati dengan tema “Dekat Di Hati, Erat Dalam Kasih” . Bertempat di Basecamp Komunitas Cahaya Bunda, Jl. Belakang Panggung No. 35, kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang berbagi yang hangat bagi para ibu dalam memahami peran psikologis mereka dalam keluarga. Acara ini menghadirkan pemateri Ummi Masrufah Maulidiyah, S.Psi., M.Psi., Psikolog., yang secara lugas dan hangat menyampaikan materi mengenai pentingnya menjaga kedekatan emosional antara ibu dan anak. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa kebersamaan tidak hanya hadir dalam bentuk materi, tetapi juga dalam tindakan kecil yang konsisten, seperti menyapa anak ketika pulang sekolah, memeluknya secara rutin, dan menunjukkan kasih sayang secara verbal dan nonverbal. Salah satu momen yang mengaduk emosi peserta adalah ketika ditayangkan sebuah klip video tentang p...

Refleksi Filsafat Ilmu: Menyelami Hakikat Pengetahuan dan Dasar Kemajuan Golongan

       7 November 2025 - Masjid Al-Qory Universitas Muhammadiyah Surabaya menjadi ajang dialog mendalam antara pemantik dan peserta. Acara ini tidak hanya menghadirkan penyampaian materi, tetapi berlangsung sebagai satu sesi diskusi dua arah yang hidup, kritis, dan sarat pertanyaan fundamental mengenai hakikat ilmu dan peranannya dalam membentuk peradaban.      Suasana Masjid Al-Qory dipenuhi antusiasme dari para peserta. Pemantik membuka diskusi dengan menekankan bahwa keinginan memahami ilmu secara menyeluruh adalah ciri utama seorang yang berpikir filsafati. Di tengah keterbatasan sudut pandang, manusia sering kali hanya terpaku pada satu disiplin; namun pemikiran filsafat justru menuntut seseorang menghubungkan ilmu dengan nilai moral, agama, dan realitas sosial. Dari titik inilah peserta didorong untuk memeriksa ulang pemahaman mereka mengenai struktur ilmu.      Pemantik kemudian membawa peserta pada refleksi mendasar: bahwa se...

Daur Ulang Kardus Jadi Bingkai Hias : Kreativitas Anak Komunitas Cahaya Bunda

  Surabaya, 5 Oktober 2025 — Komunitas Cahaya Bunda bekerja sama dengan PK IMM Allende Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat kembali mengadakan kegiatan pembelajaran yang inspiratif bagi anak-anak binaan. Dalam kesempatan kali ini, para relawan mengajarkan tentang bagian-bagian tumbuhan dan fungsinya, sebagai salah satu langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian terhadap alam sejak usia dini. Kegiatan belajar ini dilaksanakan di Kalimas Utara, Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya. Pembelajaran mengenai tumbuhan menjadi pintu awal bagi anak-anak untuk memahami pentingnya makhluk hidup di sekitar mereka, khususnya tumbuhan. Melalui kegiatan ini, anak-anak diperkenalkan dengan berbagai hal dasar seperti pengertian tumbuhan, fungsi penting tumbuhan bagi kehidupan makhluk hidup lain, serta bagian-bagian tumbuhan beserta fungsinya. Relawan juga memberikan contoh nyata dari berbagai jenis tumbuhan agar anak-anak dapat mengenalinya secara langsung. Harapannya, anak d...